Ini yang Wajib Diketahui Orangtua Terkait Kasus Bunuh Diri Karena Momo Challenge

Orang Tua, Anda mungkin sebelumnya telah mendengar tentang tantangan Blue Whale Challenge. Tapi, bagaimana dengan Momo Challenge yang belakangan ini tengah menjadi tren dan berisiko sebabkan terjadinya kasus bunuh diri pada anak?

Perlu diketahui, Blue Whale Challenge merupakan sebuah ‘permainan’ ini yang mengajak para remaja untuk menyelesaikan sejumlah tantangan dalam waktu 50 hari.

Tantangan ini secara bertahap menjadi lebih berbahaya dan akhirnya para peserta diminta untuk mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain, itu adalah menjadi tantangan hingga terjadinya kasus bunuh diri.

Sekarang, tantangan serupa lainnya kembali hadir, dikenal sebagai Momo Challenge. Tantangan ini bahkan dianggap sangat berbahaya, tak mengherankan sebagai orangtua Anda pun perlu mengetahuinya.

Apa itu Momo Challenge, mengapa berisiko sebabkan terjadinya kasus bunuh diri?

Momo Challenge merupakan tantangan yang mengajak pemainnya untuk mengikuti sebuah permainan. Tantangan ini dimulai ketika peserta menghubungi kontak Momo di platform WhatsApp.

Setelah terhubung, Momo bakal meminta peserta tantangan untuk melakukan beberapa tindakan yang justru menyakiti diri sendiri. Bahkan, tantangan itu bisa menjurus pada seruan untuk bunuh diri.

Semuanya dimulai dengan anggota grup Facebook yang berani untuk menghubungi nomor yang tidak dikenal. Saat ini, game bunuh diri populer di Facebook dan Whatsapp.

Orang yang tidak diketahui idensitasnya, dengan nomor tidak dikenal, dikenal sebagai “Momo” akan menginstruksikan pemainnya untuk terlibat dalam aktivitas aneh. Misalnya, bangun di malam hari.

Kemudian, pemainnya, yang rata-rata usia pra remaja akan diminta untuk memfilmkan diri mereka melakukan kegiatan ini dan mengirimkannya ke Momo.

Jika tantangannya berhasil, Momo akan mendorong Anda untuk ikut serta dalam kegiatan yang lebih berbahaya yang melibatkan bahaya – yang akhirnya mengarah pada kasus bunuh diri.

Momo tidak hanya menyampaikan pesan secara normal, pesan Momo dapat diisi dengan konten kekerasan atau menakutkan. Momo bahkan akan memanggil peserta lainnya untuk ikut mengintimidasi pemain lainnya.

Jika menolak untuk melakukan tantangan berikutnya, Momo akan mengancam untuk mengunjungi dan mengutuk Anda.

Sangat mudah untuk melihat mengapa anak-anak merasa sangat tertekan dalam tantangan yang mengerikan ini.

Mata melotot, seringai lebar dan fitur melengkung dari wajah Momo membuat anak-anak mudah untuk percaya bahwa dia nyata. Terlebih bagi anak-anak di bawah 12 tahun di mana mereka sebenarnya belum mampu membedakan antara realitas dan fantasi.

Terlebih jika ada dengan tekanan yang datang dari teman sebayanya. Jika hal ini terjadi, maka bahaya telah menanti di depan mata.

Karakter Momo ini sebenarnya adalah sebuah patung bernama “Mother Bird” yang dibuat oleh Midori Hayashi, seorang Artis Jepang. Itu adalah karya seni yang dipamerkan di Galeri Seni Vanilla horor Tokyo, dan itu tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan dalam permainan berbahaya di media sosial.

Tantangan Momo yang sangat mengancam!

Ini bukan lelucon. Tantangan Momo merupakan ancaman di dunia maya yang sangat serius dengan konsekuensi sangat nyata. Belum lama ini, seorang gadis 12 tahun di Buenos Aires dilaporkan telah melakukan bunuh diri di rumahnya di Argentina.

Rupanya, dia merekam saat-saat terakhirnya sebelum melakukan bunuh diri. Polisi menduga dia mengindahkan instruksi Momo dan berpartisipasi dalam permainan.

Permainan ini ternyata memang dapat memengaruhi pemainnya, khususnya yang masih beruisa anak-anak atau pra remaja karena beberapa alasan. Apa saja?

  • Aplikasi Whatsapp atau media sosial seperti Facebook memang sangat mudah diakses. Setiap anak yang memilikinya tentu tidak akan pernah curiga dan tidak akan berpikir kalau permainan ini bisa berbahaya.
  • Otak anak-anak masih berkembang. Anak-anak masih tidak dapat membedakan mana yang realitas dan mana yang bukan. Jangan lupa ada juga tekanan teman sebaya. Kedua faktor ini dapat membuat wajah menyeramkan dan pesan menakutkan menjadi kenyataan, yang mengarah kepada terjadinya sebuah tragedi.
  • Aplikasi Whatsapp hanya membutuhkan nomor telepon saja. Ini berarti bahwa orangtua dan polisi merasa akan kesulitan untuk melacak pesan yang berasal dari akun dan tidak dapat mengawasi kemungkinan terjadinya penindasan lewat aplikasi ini.

Bagaimana melindungi anak-anak dari permainan kejam ini? Berikut ini beberapa kiat untuk membantu melindungi anak-anak Anda:

  • Pantau dan awasi aktivitas online anak Anda. Tetaplah melakukan komunikasi dua arah yang hangat sehingga anak Anda bisa bercerita dengan bebas dan leluasa. Anda pun bisa secara berkala memeriksa memeriksa aktivitas Whatsapp mereka secara singkat.
  • Anak usia pra remaja tentu saja sudah bisa diajak berdiskusi, oleh karena itu sempatkan waktu untu berdiskusi dan tanyakan tanggapan anak terhadap tantangan ini. Bicarakan dengan mereka secara terbuka tentang permainan ini. Katakan kepada mereka mengapa permainan ini sangat berisiko dan sebaiknya tidak perlu berpartisipasi di dalamnya.
  • Jangan lupa ajarkan anak Anda tentang bahayanya. Biarkan anak Anda tahu bahwa bunuh diri tidak akan menguntungkan siapa pun, dan itu hanya akan menyakiti orang yang mereka cintai. Mendengarkan instruksi Momo tidak akan membantu siapa pun, itu hanya akan membuat orang terluka.
  • Bijaklah saat memutuskan untuk memberikan smartphone untuk anak. Benarkan anak Anda usdah membutuhkannya? Jika perlu, tunda memberi mereka smartphone.
  • Jadilah teladan yang baik dengan membatasi penggunaan ponsel cerdas Anda sendiri, terutama ketika Anda tengah bersama anak Anda.
  • Mulailah dengan kebiasaan sederhana seperti membatasi penggunaan telepon genggam di rumah. Misalnya saat sedang makan bersama, atau saat di area kamar tidur. Untuk itu, Anda perlu menetapkan aturan yang jelas di rumah.

Dikutip dari Kumparan.com, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. Angka tersebut adalah yang tercatat di kepolisian.

Angka riil di lapangan bisa jadi lebih tinggi. Mirisnya lagi, bunuh diri juga menjadi penyebab kematian tertinggi kedua pada rentang usia 15-29 tahun.

Kasus bunuh diri, khususnya pada anak pra remaja dan remaja tentu dapat disebabkan oleh beragam faktor. Namun yang perlu digaris bawahi adalah, peran Anda sebagai orangtua untuk mencegah terjadinya kasus bunuh diri pada anak.

Dikutip dari mayoclinic.org, ada beberapa faktor pemicu mengapa anak yang memasuki usia pra remaja atau remaja bisa melakukan tindakan bunuh diri:

  • Memiliki masalah kejiwaan (termasuk depresi).
  • Hilang minat atau memiliki konflik dengan keluarga atau teman dekat.
  • Pernah mengalami atau menyaksikan kekerasan fisik dan seksual.
  • Ketergantungan alkohol atau narkoba.
  • Memiliki masalah kesehatan, misalnya kehamilan yang tidak diinginkan atau penyakit menular seksual.
  • Menjadi korban perundungan (bullying).
  • Memiliki masalah dengan orientasi seksual.
  • Memiliki teman atau keluarga yang bunuh diri.
  • Riwayat keluarga dengan gangguan mood dan perilaku bunuh diri.

Untuk mencegahnya, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

  • Jadilah teman bagi anak Anda. Jangan lupa untuk menanyakan perasaannya setiap hari. Apakah ia bahagia? Apakah ada sesuai yang menganjalnya dan membuatnya merasa tidak nyaman?
  • Anda tidap perlu menunggu anak untuk menghampiri Anda, datanglah kepada mereka dan tawarkan bantuan apa yang bisa Anda lakukan untuknya.
  • Jangan mengabaikan tanda-tanda yang diberikan anak sebagai hal biasa, terlebih menganggap kalau apa yangh dilakukan anak Anda terlalu berlebihan.
  • Dorong anak Anda untuk menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga yang suportif dan bisa memberikan dukungan.
  • Jika Anda merasa kesulitan, atau curiga ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak, tal ada salahnya untuk meminta bantuan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.