Ballerina 11 Tahun Asal Indonesia Raih Kejuaraan di AS

Ballet memang termasuk jenis seni tari yang kurang populer dan tidak banyak digandrungi di Indonesia. Mungkin, bisa dikatakan seni tari ini termasuk ‘mewah’ atau mahal. Hanya segelintir kalangan saja yang berminat menjadi ballerina Indonesia.

Namun, tidak demikian dengan Rebecca Alexandria Hadibroto. Biaya kelas yang mahal dan kesulitan keuangan keluarga tidak menyurutkan tekad dan niat gadis berusia 11 tahun itu untuk menjadi salah satu ballerina Indonesia berprestasi.

Salah satu ballerina Indonesia yang diperhitungkan di tingkat dunia

‘Kerja keras memang tidak pernah mengkhianati hasil’. Kecintaan Rebecca akan dunia ballet, tidak hanya membuatnya menguasai studio dansa. Tetapi dengan tekad yang kuat, dedikasi, serta kerja keras, berhasil membawa Rebecca menjadi salah satu ballerina muda Indonesia yang diperhitungkan di tingkat dunia.

Ia mendapat kehormatan sebagai ballerina Indonesia pertama yang diundang dalam sebuah kompetisi bergengsi, Young American Grand Prix di New York pada bulan April lalu. Bukan hanya itu, ia juga berhasil meraih juara di kompetisi tersebut.

Sebelumnya, ia pernah mengikuti kompetisi internasional Asian Grand Prix di Hongkong tahun lalu dan mendapatkan medali emas dalam kompetisi tersebut. Ia juga sempat mengikuti kompetisi Malaysian International Ballet Grand Prix di Malaysia, yang juga kembali mendapatkan medali emas.

Kesulitan ekonomi keluarga dan bullying tak jadi penghalang

Rebecca mulai menari ketika usianya menginjak dua setengah tahun. Dibalik kesuksesannya, Rebecca memiliki kisah yang sangat menginspirasi. Mulai dari berjuang menghadapi kesulitan ekonomi keluarga, menerima bullying dari teman-teman kelasnya yang lebih kaya, hingga mengalami kecelakaan yang melukai kakinya dan harus berhenti berlatih balet di studio.

“Saya selalu berkompetisi dengan biaya sendiri karena orangtua saya tidak memiliki banyak uang. Saya juga tidak pernah banyak meminta. Saya sangat bersyukur masih bisa terus menari ballet, karena saya tahu ballet itu sangat mahal,” ungkap Rebecca dalam sebuah video yang diproduksi oleh fotografer, Jordan Matter.

Sebagai pelatih, Claresta Alim juga sangat memuji kepribadian ballerina Indonesia muda itu. “Rebecca adalah gadis yang rendah hati. Meskipun ia dari keluarga yang kurang mampu dan pernah mendapatkan bullying dari teman-temannya, ia sangat bekerja keras. Ia selalu mengejar apa yang ingin ia capai. Ia tak lelah untuk terus berusaha dan berusaha,” ungkap sang coach.

Kepribadian Rebecca yang manis dan rendah hati itu betul-betul membuat sang pelatih kagum. “Suatu saat, semua temannya membawa makanan enak. Sementara, Rebecca hanya membawa 2 buah kentang rebus. Salah satu staf kami bertanya, apakah kenyang dengan hanya memakan 2 kentang rebus? Ia memastikan bahwa apa yang dibawakan ibunya akan membuatnya kenyang. Ia tetap senang dan menghabiskan makanannya. Ia merasa bersyukur dengan makanan yang diberikan orangtuanya,” tambah Claresta.

Sempat alami kecelakaan dan berhenti ballet

Sekitar 2 tahun lalu, Rebecca diketahui pernah mengalami sebuah kecelakaan sepeda motor saat sedang bersama ibunya. Motor yang ditumpanginya ditabrak oleh angkutan umum.

“Saat itu wajah ibu sudah penuh darah dan saya mengalami cedera di bagian kaki kanan. Saya sempat merasa sakit saat berjalan. Saya sampai menangis pasrah. Saya sedih karena tidak bisa berlatih. Tapi saya berusaha bangkit dan akhirnya bisa berlatih ballet kembali,” ungkap Rebecca.

Rebecca memang gadis luar biasa yang beruntung. Karena prestasinya, perjalanan Rebecca diangkat melalui sebuah video yang diproduksi oleh Jordan Matter sebagai bagian dari seri “Unstoppable”, yang bercerita tentang orang-orang yang menginspirasi. Tonton videonya di sini:

Berkaca dari Rebecca, jika ingin mencapai sesuatu memang harus diperjuangkan. Tidak ada yang tidak mungkin, selama Anda terus berusaha dan percaya.