Kisah Boediono: Anak Penjual Batik yang Jadi Wapres RI

Siapa yang gak kenal dengan Boediono? Wakil Presiden kita yang ke-11 ini dikenal karena sikapnya yang gak banyak bicara alias lebih banyak diam.

Meski semasa mengemban jabatan di pemerintahan namanya dikait-kaitkan dalam kasus skandal korupsi Bank Century, Boediono tetap terus fokus dengan tugasnya. Sejumlah prestasi ditorehkannya selama menjalankan tugas negara.

Di luar kontroversi yang menyeret namanya, ada yang menarik yang layak diulas dari kisah Boediono. Seperti apa? Yuk disimak.

1. Bercita-cita jadi perajin wayang kulit

kisah boediono
Boediono (metrotvnews)

Gak seperti anak-anak kebanyakan, Boediono punya cita-cita yang sederhana sewaktu kecil, yaitu jadi perajin wayang kulit. Padahal nih anak-anak seusianya punya cita-cita yang keren. Mulai dari jadi dokter, polisi, tentara, hingga pilot.

Kisah Boediono sendiri bermula di Kota Blitar. Ia lahir pada 25 Februari 1943. Ayahnya bernama Ahmad Sastro Sarjono, sedangkan ibunya bernama Sumilah. Ayah Boediono berprofesi sebagai penjual batik.

Ia menghabiskan masa kecilnya dengan bersekolah di SD Muhammadiyah, SMP Negeri 1 Blitar, dan SMA Negeri 1 Blitar.

2. Gak tamat di UGM, tapi raih Doktor Universitas Pennsylvania

Lulus SMA, Boediono melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Namun, ia gak menuntaskan pendidikannya tersebut.

Boediono malah memilih mengambil beasiswa buat meraih gelar S1 di University of Western Australia. Di universitas ini ia malah menamatkan kuliahnya tahun 1967.

Bukan tanpa alasan Boediono hijrah dari Indonesia ke Australia. Inflasi besar-besaran tahun 1960-an memaksa dirinya buat ambil keputusan. Walaupun orang tuanya masih mampu membiayainya, ia gak mau membebani mereka.

Begitu ada peluang beasiswa, Boediono pun gak menyia-nyiakannya.

Gak cuma menyandang gelar S1, Boediono juga sukses meraih gelar Master of Economics dari Universitas Monash pada tahun 1972. Kemudian ia juga sukses memperoleh gelar Doktor bidang ekonomi bisnis di University of Pennsylvania tahun 1979.

3. Dosen yang kemudian jadi pejabat pemerintahan

kisah boediono
Boediono dan istri (tempo)

Setelah meraih gelar Master of Economics, Boediono pilih berkarier sebagai dosen. Ia mengajar di Fakultas Ekonomi di Universitas Gadjah Mada sejak 1973.

Lima belas tahun kemudian Boediono dipercaya memegang posisi sebagai Deputi Ketua Bidang Fiskal dan Moneter Bappenas. Posisi ini diembannya dari tahun 1988-1993.

Di lingkaran pemerintahan, karier Boediono terbilang cemerlang. Ia diserahi jabatan Direktur yang kini berubah menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dari 1993-1998.

4. Sukses bikin rupiah stabil di angka Rp 9.000 per dolar

Gonjang-ganjing di tubuh pemerintahan turut memengaruhi Boediono saat itu. Demi memulihkan kembali kondisi ekonomi negara, Boediono dipercaya mengisi jabatan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Jabatan itu diembannya di era pemerintahan B.J. Habibie. Pada 2001, Boediono bergabung ke dalam Kabinet Gotong Royong. Ia menjabat Menteri Keuangan dari 2001-2004.

Semasa menjadi Menteri Keuangan inilah, Boediono berhasil membawa Indonesia bebas dari ketergantungan Dana Moneter Internasional atau IMF. Malahan nih, media BusinessWeek menyebutnya sebagai menteri yang paling berprestasi.

Gak cukup sampai di situ. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Boediono mampu menstabilkan rupiah di angka Rp 9.000 per dolar.

5. Dari menteri kemudian jadi gubernur BI

Setelah rehat setahun, Boediono kembali dipanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono buat mengemban jabatan Menteri Koordinator bidang Perekonomian pada tahun 2005.

Entah kebetulan atau emang ada pengaruhnya, rupiah menguat begitu Boediono tampil sebagai menteri. Gak cuma rupiah yang menguat hingga di bawah Rp 10 ribu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun juga ditutup menguat.

6. Dampingi SBY sebagai Wakil Presiden

kisah boediono
SBY-Boediono (kompas)

Posisi Boediono berubah lagi. Pada April 2008, ia disahkan DPR sebagai Gubernur Bank Indonesia, posisi bergengsi di dunia keuangan Tanah Air. Tapi setahun kemudian, menjelang Pilpres 2009, secara mengejutkan SBY mengumumkan namanya sebagai calon Wakil Presiden.

Pada akhirnya, SBY-Boediono menang Pilpres 2009 melawan pasangan Megawati-Prabowo dan Kalla-Wiranto.

Selepas masa jabatannya, Boediono aktif kembali mengajar di Universitas Gadjah Mada. Boediono juga sempat menulis beberapa buku.

Misalnya aja Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?: Kumpulan Esai Ekonomi (2009), Indonesia Menghadapi Ekonomi Global (2001), dan ‘Strategi Industrialisasi: Adakah Titik Temu ?’ (1986).

Begitulah kisah Boediono yang mulai merintis karier sebagai dosen kemudian menjadi Wakil Presiden. Semoga kisah Boediono di atas memberi inspirasi dan motivasi buat kamu ya!

قالب وردپرس