Edukasi Seks – Pesan seorang ibu tentang membesarkan anak laki-laki

Punya anak laki-laki yang kini berusia 8 tahun, saya cukup paham kalau pendidikan seks sangat penting dan perlu dipahami oleh anak. Seorang blogger, Radilarezani yang telah membuktikan kalau edukasi seks pada anak sangat penting.

Saya pun, sejak dulu tidak pernah menganggap kalau edukasi seks untuk bukanlah hal tabu, menganggap pendidikan seks tak perlu membicarakan dalam komunikasi sehari-hari.

Apalagi kalau mengingat betapa banyaknya kejahatan seksual yang mengintai anak-anak. Ditambah lagi, sebagai orangtua tentu kita tidak bisa terus menerus berada di samping anak, untuk memastikan dirinya akan terus aman.

Oleh karena itulah, salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk membentengi anak  perlu dimulai dengan memberikan edukasi seks yang tepat.

Setidaknya hal ini sudah dibuktikan oleh seorang ibu bernama Radilarezani. Dalam blog pribadinya, www.nengmumun.wordpress.com ia menceritakan sebuah pengalaman ‘horror’ yang bisa dijadikan pelajaran bagi semua orangtua, khususnya yang memiliki anak laki-laki.

Ia menceritakan pengalaman yang dialami oleh anak laki-lakinya yang akan memasuki usia 6 tahun.

Diceritakan olehnya, meskipun ia tinggal di cluster, namun ia tetap mengizinkan anak-anaknya untuk bermain bebas di lingkungan rumahnya. Termasuk dengan anak-anak yang rumahnya di luar area cluster. Toh, yang paling penting ia telah mengetahui dengan siapa anaknya bermain.

Namun pada suatu hari, sang ART melaporkan bahwa anaknya bermain dengan teman baru, yang wajahnya tidak dikenali.

“Bu, tumben-tumbenan mas A temennya lain, yang ini saya nggak pernah liat”.

“Oiya? Temennya anak-anak kontrakan (di luar area cluster) kali ya, Bu”, ujarnya tanpa ada pikiran macam-macam.

Hari berlalu, hingga saat siang hari putranya pulang sambil lari-larian. Tak lama, ia pun menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

Seperti yang dituliskannya dalam blognya, anaknya bercerita bahwa ada teman baru yang berusia di atasnya berusaha merayunya untuk membuka baju, celana dalam dan celana pendeknya dengan iming-iming dipinjami mainan pesawat.

Mendengar cerita putranya, ia pun mulai resah. Beruntung, setelah diajak berbicang putranya telah memahami memperlihatkan area kemaluan seperti yang diminta oleh temannya bukanlah suatu hal wajar.

Ia telah memahami bahwa area tersebut merupakan area pribadi yang tidak boleh dilihat oleh siapa pun, terlebih jika sampai disentuh.

Meskipun begitu, ia pun mencoba mencari tahu, apakah puteranya mudah tergoda dengan bujuk rayu seseorang.

Ibu : “Ini aku mau nanya ya, kalau someday Boris atau orang lain, siapaaaa aja deh, bisa om X, om Y, pak C, bu D (random aja nyebut orang2 dewasa di sekeliling dia / yang dia kenal) atau ada strangers mau kasih kamu Nerf yang guwwwedeeee banget tuh (mainan yang dia lagi pengen banget), tapi kamu disuruh buka baju sama celana. Kamu mau nggak?”

Anak : –menjawab dgn cepat dan lugas– “Nggaklah, kan itu private area, kan memang nggak boleh dikasih lihat sama siapa-siapa”.

Ibu : “Tapi kamu bisa dapat mainan yang kamu pengen banget dan Mama Papa belum bisa beliin, lho”

Anak: *geleng-geleng* “Malu!”

—– mengucap syukur di dalam hati tak henti2 —–

Lewat pengalaman yang ia tulis dalam blognya, tentu semakin menegaskan bahwa edukasi seks memang sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini.

Salah satu pendidikan seks yang ia terus tekankan terkait dengan self defense menghadapi pelecehan seksual.

Seperti yang ia paparkan dalam blog pribadinya, ada beberapa hal yang perlu ditanamkan sejak dini  terkait dengan edukasi seks untuk anak yang bisa Parents praktikan.

1. Pengenalan anggota tubuh, dalam hal ini khususnya alat vital yaitu penis = private area

Untuk perempuan namanya vagina, aturannya sama dengan laki-. Laki-laki muslim = dari pusar ke bawah = aurat (ini spesifik ya untuk pendidikan seksual dalam islam perlu dilampirkan karena sesuai kepercayaan yang dianut). Bahwa yang berhak untuk lihat dan pegang itu hanya dia sendiri, tapi karena dia masih kecil, orangtua yang bertanggung jawab untuk bantu.

2. Rasa malu

Malu, ih nggak pake baju, malu ih keluar dari kamar mandi nggak pake handuk, malu ih ganti baju di mal tapi nggak ke kamar mandi dulu, dan malu lainnya yang terkait sama menampakkan bagian tubuh pribadi di publik area.

3. Kaos singlet = baju rumah. Celana pendek di atas lutut = celana rumah

Kesadaran untuk ngenalin ini ke anak timbul saat membaca terungkapnya group pedofil online. salah satu fetish mereka adalah melihat anak yang hanya pakai singlet.

4. Sejak balik ke Indonesia dan masuk sekolah TK.  Selalu membiasakan untuk bertanya:

“Kalau kamu lagi pipis di toilet suka lihat-lihatan penis nggak sama temen-temennya?”

“Kalau pupu (poop) di sekolah yang nyebokin siapa?”, nggak lupa juga untuk kasih tahu pada anak, “kalau ada temen yang mau pegang penis, atau kamu disuruh pegang penis dia, jangan mau! Habis itu bilang Bu guru, sampe rumah bilang Mama Papa.”

Kemudian kurang lebih sejak enam bulan lalu dia ini udah pipis sendiri di toilet laki-laki kalau lagi ke mal/hotel/public area. Kalo ada Bapaknya ya bareng, kalau perginya sama gue doang, ini yang selalu  ditanya dan kasih tahu berulang kali:

“Di toilet, ada orang dewasa yang bilang mau pegang penis kamu atau nggak?”

Beri tahu kalau msyarakat di Indonesia banyak yang bilang penis adalah burung.

“Kalo ada orang dewasa di toilet laki-laki bilang mau pegang atau mainan burung kamu… kamu bilang NO! NGGAK!“. TONJOK AJA!! Terus lari! Bagian tonjok aja itu serius sih gue kasih tahu ke bocil sesekali, gue bilang dia bukan orang baik karena orang baik nggak akan ask something like that.

5. Terakhir, bagian yang paling penting, “Kalo kamu ngalamin kejadian yang mama sebutin di atas… kamu SEGERA KASIH TAU MAMA PAPA.”

Jadi, ketika dia menemui kejadian yang nggak diharapkan ini. Action-nya adalah:

1. Tolak

2. Menjauh dari pelaku.

3. Lapor ke orang dewasa yang dia percaya, dalam hal ini gw sama suami, ortunya.

Pendidikan seksual dalam islam merupakan salah satu pendidikan yang penting untuk diajarkan oleh orangtua untuk anak-anaknya. Seperti yang dikatakan Dila, seorang anak akan terus bertumbuh. Tidak selalu di bawah ketiak orangtuanya.

“Satu yang pasti, dia BUKAN bubble boy yang harus kami wrap dan lindungi dari dunia yang makin lama bukannya makin bersih ini. Dia harus berhadapan sama realita hidup yang mana berisikan orang baik dan buruk, bahkan abu-abu.”

“Kelihatannya indah padahal busuk and vice versa. Someday, dia HARUS bisa mandiri, keluar dari rumah dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri sebagai seorang laki-laki dewasa. Salah satunya, ya, menjaga dirinya dari “marabahaya yang mengancam”, dan untuk sekarang itu masih tanggung jawab saya dan suami.”

Semoga pengalaman ini bisa bermanfaat untuk Parents. Cerita lengkapnya juga bisa Parents baca di blog www.nengmumun.wordpress.com.