Kisah Sukses Bisnis Rumahan Bebek Goreng H. Slamet

Sebelum sukses dan punya banyak cabang, Bebek H Slamet ternyata cuma bisnis rumahan modal kecil yang berlokasi di Solo, Jawa Tengah. Bisnis ini didirikan pada 1986 dengan modal cuma Rp 10 ribu aja.

Adalah Slamet Rahardjo dan istrinya, Baryatin, yang bertindak selaku founder restoran bebek super enak ini. Keduanya menjadikan pekarangan rumahnya sendiri sebagai tempat usaha. Kini rumah tersebut telah jadi kantor pusat Bebek H Slamet.

Sebenarnya, niat Slamet dan Baryatin mendirikan usaha ini sebatas coba-coba. Tapi, hal itu malah berbuah manis lantaran Bebek H Slamet jadi restoran terfavorit hingga punya puluhan cabang hingga saat ini.

Kira-kira, apa sih rahasianya pak Slamet dalam membangun bisnis rumahan modal kecil jadi besar seperti saat ini?

Biar lebih jelas, kita simak yuk ulasan di bawah ini.

1. Gak asal pilih bahan baku

Cara pertama yang dilakukan pemilik bisnis rumahan modal kecil ini adalah menjaga kualitas produk. Jika produk andalan udah enak, maka orang-orang juga pasti suka.

Pak Slamet gak pernah meremehkan urusan yang satu ini. Daging yang dia pilih bukan bebek sembarangan. Kualitasnya harus yang bagus.

Kabarnya sih, pak Slamet menggunakan bebek yang udah bertelur empat kali dalam rentang waktu kurang lebih dua tahun. Tekstur daging bebek seperti itu lebih lembut. Waktu digoreng rasanya bisa beda banget sama bebek lain.

Coba seandainya pak Slamet memilih bebek muda, bisa-bisa dagingnya malah hancur saat direbus.

Kalau dagingnya aja udah lembut dan enak, pengin dikasih bumbu apa aja pasti nikmat di lidah. Gitu juga sebaliknya. Kalau bebeknya aja alot atau keras, pengin seenak apa pun bumbunya, pasti gak bakal tuh disukai orang.

2. Bumbu yang konsisten

Pengin kulinernya dari Indonesia, Barat, Timur Tengah, atau bahkan Afrika sekalipun, kalau bumbunya gak konsisten, ya rasanya bakal berubah-ubah.

Nah, pak Slamet ini orang yang menjaga banget masalah bumbu. Dia gak mentolerir perubahan sedikit pun. Sambalnya aja ya gitu-gitu aja, tapi jelas enak. Bahan-bahannya cuma cabe rawit, bawang, garam, dan minyak jelantah. Udah. Gak ada tambahan lain.

Meski kelihatan sederhana dan aneh karena minyak jelantahnya, tapi malah itulah yang menjadi ciri khas dari Bebek Goreng H Slamet.

Coba seandainya pak Slamet menambahkan rempah-rempah atau bahan lain. Bisa jadi lebih enak sih… tapi tetap aja itu bukan sambalnya Bebek Goreng H Slamet.

3. Gak usah buru-buru mewaralabakan bisnis

Banyak banget pengusaha bisnis rumahan modal kecil yang sukses karena mewaralabakan bisnisnya. Sebut aja Mbah Jingkrak, atau Ayam Bakar Mas Mono.

Menariknya, Bebek Goreng H Slamet malah kurang “pro” sama ide ini. Jadi kalau kamu lihat outlet-outlet restoran ini di Rawamangun, Bintaro, atau wilayah-wilayah lain, mereka itu menggunakan sistem cabang.

Bapak tujuh anak itu pernah bilang kalau sistem waralaba alias franchise itu rumit. Daripada pusing-pusing mikirin sistemnya, ya mending buka cabang aja deh.

Namun tentu aja perkara buka cabang juga gak bisa sembarangan. Harus ada bimbingan dulu dari kantor pusat ke cabang. Tujuannya ya apalagi biar mereka bisa membikin menu-menu yang rasanya sama persis dengan restoran Bebek Goreng H Slamet di mana pun.

4. Punya pembeda dengan warung bebek lain

Seiring semakin populernya tempat makan ini, banyak yang kemudian membuka cabang abal-abal alias palsu. Mereka ngaku-ngaku restoran Bebek H Slamet, padahal ya gak ada hubungannya sama sekali.

Kok parah ya? Berani-beraninya pakai nama restoran lain biar dagangan mereka laris.

Tapi, ya itulah persaingan usaha yang berlangsung di Kartosuro pada saat itu. Mungkin aja mekanisme persaingan di Jakarta gak seperti ini, bisa jadi lebih parah atau njelimet.

Menanggapi itu, Slamet pun langsung mencantumkan kata “Asli” di kardus pembungkus dan di papan nama toko. Tentu aja warung-warung bebek goreng lainnya gak bakal kepikiran melakukan hal itu. Konsumen jadi gak bingung lagi soal mana yang asli dan palsu.

5. Harga sesuai dengan target pasar

Apakah ketika kita buka bisnis harganya harus murah biar cepet laris? Gak juga tuh. Ada kok yang murah tapi gak laku.

Bebek Goreng H Slamet mungkin harganya terjangkau karena mereka emang menargetkan segmen menengah. Bebek utuh aja harganya Rp 77 ribuan, lalu kalau pengin dada dan potongan daging lainnya bisa di bawah Rp 20 ribu.

Kalau pengin paketan juga bisa, paling cuma Rp 24 ribuan aja udah cukup kenyang tuh. Murah gak menurutmu? Kalau menurutmu murah, enak, dan layak disambangi, ya berarti kamu adalah target pasar mereka.

Coba bandingin sama The Duck King. Ya bebeknya aja udah beda sih, bebek pecking. Dan target pasarnya juga menengah ke atas.Kayak apa jadinya kalau The Duck King murah? Pasti orang bakalan ragu pengin beli bebek pecking harga segitu.

Sementara itu, apa kabar kalau Bebek Goreng H Slamet harga menunya yang kecil aja Rp 80 ribu? Pasti gak ada yang pengin beli, kan, gara-gara kemahalan.

Itulah cara pak Slamet membesarkan bisnis rumahan modal kecil yang kini cabangnya udah di mana-mana itu.

Cerita pak Slamet membuktikan kalau sukses bisa diraih meski diawali dari bisnis rumahan modal kecil aja. Tentu, dengan menerapkan strategi yang mumpuni, bukan asal jualan.