Uber Tutup, Ini 6 Pelajaran Bisnis yang Bisa Kita Petik

Tanggal 8 April 2018 jadi tanggal resmi aplikasi Uber tutup di Asia Tenggara. Berita yang cukup mengejutkan, karena aplikasi layanan ride-sharing ini terbilang pelopor dan “raksasa”-nya industri transportasi online.

Berawal di California tahun 2009, Uber udah berekspansi di cukup banyak negara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, Uber hadir sejak tahun 2014, tiga tahun setelah GO-JEK berdiri.

Sayang seribu sayang, kini aplikasi Uber harus tutup. Sengitnya persaingan bisnis antara layanan ride-sharing ini menjadi salah satu faktor pemicu.

Gimana gak, Uber harus melawan Grab yang emang jadi raja sekaligus tuan rumah di skala Asia Tenggara. Di Indonesia, persaingan tersebut makin berat karena ada GO-JEK yang emang asli Indonesia.

Dari sepak terjang Uber di Asia Tenggara ini, banyak pelajaran berharga soal bisnis yang bisa kita petik lho.

Ada beberapa poin yang bakal berguna banget buat kelangsungan bisnis yang sedang atau bakal kamu rintis. Yuk, simak beberapa hikmah bisnis yang bisa kamu petik dari hengkangnya aplikasi Uber di Indonesia dan Asia Tenggara.

1. Apa yang cocok buat satu daerah belum tentu cocok di daerah lain

Uber mungkin punya pamor kuat di negara asalnya, namun belum tentu di negeri orang. Terbukti sebagai contoh, pamor GO-JEK jauh lebih melekat pada masyarakat dibandingkan Uber.

Salah satu alasannya, GO-JEK lebih memahami pasar karena emang dikelola oleh orang-orang yang berasal dari Indonesia.

Nah, buat kamu yang sedang merintis bisnis, kamu perlu paham bahwa gak semua wilayah bisa kamu kuasai. Mungkin usaha kamu sangat berjaya di kota tertentu, namun belum tentu sama hasilnya bila didirikan di daerah lain.

Jadi perlu strategi dan perencanaan matang saat memutuskan ingin berekspansi ya.

2. Lambat berinovasi bikin tertinggal

aplikasi-uber
Ubermotor cukup lambat diperkenalkan di Indonesia (uber)

Masih melanjutkan alasan sebelumnya, Uber yang kurang memahami pasar Indonesia misalnya. Hal tersebut bikin mereka lambat berinovasi.

Di Indonesia, khususnya di Jakarta, ojek jauh lebih dibutuhkan karena kondisi jalanan yang sering macet.

GO-JEK udah hadirkan layanan tersebut sejak tahun 2011. Kemudian, Grab termasuk cepat mengembangkan lini bisnisnya dengan menyediakan Grabbike di Indonesia sekitar Mei 2015. Waktu tersebut adalah masa dimana GO-JEK sedang naik daun.

Gimana dengan Uber? Disebutkan tadi Uber udah hadir di tahun 2014. Tapi sayang, aplikasi Uber baru meluncurkan UberMOTOR di April 2016.

UberMOTOR tertinggal setahun dibandingkan pesaingnya. Setahun itu waktu yang cukup panjang buat dikenal dan akrab dengan pelanggan, lho!

Hal ini jadi pelajaran penting buat para pebisnis. Kita perlu cepat dalam berinovasi dan menyesuaikan dengan tuntutan pasar. Memikirkan strategi dan kemungkinan profit emang dibutuhkan banget, tetapi kalau kelamaan malah jadi basi.

3. Dukungan penuh di cabang lain

Ketika Uber mengekspansi negeri lainnya, sayangnya hal tersebut gak diikuti dengan support penuh. Pelanggan di negeri lain cukup sulit bikin pengaduan bila ada masalah karena kantornya yang gak transparan.

Hal ini beda dengan Grab dan GO-JEK yang membangun kantor secara jelas. Dengan gitu, pelanggan pun merasa lebih aman.

Kamu yang ingin melebarkan sayap bisnis perlu ingat bahwa sekadar ekspansi aja gak cukup. Kamu perlu getol kasih dukungan penuh saat melakukannya. Misal, dengan pembangunan infrastruktur dan sarana yang mendukung bisnismu.

Baik pusat ataupun cabang sama-sama mesti harus kasih profit, kan? Jadi kenapa kamu harus anaktirikan salah satunya?

4. Terlalu banyak lini bisnis atau cabang justru bikin gagal fokus

download-uber
Terlalu berekspansi tanpa diikuti inovasi dan support (medium)

Uber dikenal sebagai “raksasa” aplikasi layanan ride-sharing. Secara global, Uber bisa dibilang punya lebih banyak cengkeraman dibandingkan Grab dan GO-JEK. Total, sebanyak 633 kota udah disambangi oleh Uber.

Sayangnya, ekspansi yang cukup agresif itu justru bikin Uber kewalahan. Aplikasi ini malah jadi gak fokus mengembangkan lini bisnisnya di tiap daerah atau negara.

Gitu juga dengan kamu yang sedang berbisnis, kamu gak perlu hadirkan terlalu banyak lini bisnis ataupun cabang bila gak sanggup kelola.

Contoh, Bob Sadino malah sukses dengan satu Kem Chicks selama 38 tahun. Barulah setelah itu dia berekspansi.

Mungkin kamu butuh beberapa kutipan inspiratif dari Bob Sadino?

5. Jangan berada di bawah investor yang sama dengan kompetitor

download-aplikasi-uber-terbaru
Sama-sama di bawah naungan Softbank (tempo)

Ternyata, salah satu pemilik  saham Uber adalah investor yang sama dengan pemilik Grab, yaitu SoftBank. Pihak investor punya dua perusahaan di lini bisnis yang sama. Bila ada masalah gini tentulah si investor harus pilih salah satu, kan?

Cari investor buat bisnis kamu pun benar-benar harus kamu perhatikan jauh ke depan. Sebisa mungkin, jangan berada di bawah naungan yang sama dengan kompetitor deh. Ntar kamu malah dieliminasi kalau ternyata kamu gak bisa capai target.

6. Korbankan yang kecil buat dapat yang besar

Keputusan Uber buat tutup di Asia Tenggara maupun beberapa negeri lainnya sebenarnya bukan langkah yang buruk-buruk amat, kok.

Kok bisa?

Faktanya, Uber gak sepenuhnya tutup, melainkan merger usaha dengan kompetitor lokal. Dengan gitu, Uber masih tetap punya keuntungan, namun memanfaatkan “tangan lokal”. Jadi, bisa dibilang langkah ini memaksimalkan profit yang mereka dapat dalam skala global.

Pun Uber punya tujuan lainnya, yaitu menghadapi IPO 2019. Jadi, mau gak mau, Uber mesti mengurangi pos pengeluaran di negeri-negeri lain.

Kamu pun bisa meniru langkah Uber ini bila menghadapi masalah dalam bisnis. Kadang kala, kamu perlu mengorbankan sesuatu yang ternyata kurang memberikan profit demi dapat yang lebih besar.

Meski kelihatannya kalah, namun sebenarnya Uber gak benar-benar menyerah. Pengalaman Uber ini bisa jadi inspirasi buat kamu yang sedang struggling di bisnis kamu sekarang. Mungkin ada beberapa poin yang cocok buat kamu terapkan? Bisa jadi.

قالب وردپرس

error: Content is protected !!