Belajar dari Sido Muncul yang Lepas dari Ancaman Bangkrut

Sido Muncul adalah contoh nyata sebuah perusahaan jadul yang mampu beradaptasi dengan zaman now, bahkan kian berkembang. Padahal, jamu sebagai jualan utamanya adalah produk dari masa lampau.

Tapi, di tangan keluarga Hidayat, beras kencur, kunyit asam, dan kawan-kawan bisa disulap menjadi alat pendulang rupiah yang efektif hingga sekarang. Bahkan ketika pabrik jamu legendaris Nyonya Meneer tutup usia, Sido Muncul justru makin perkasa.

Yang lebih hebat, aset Nyonya Meneer dibeli Sido Muncul senilai Rp 21 miliar. Angka yang fantastis.

Mungkin banyak yang belum tahu kalau perusahaan ini pernah hampir bernasib sama seperti Nyonya Meneer. Bahkan ancaman kebangkrutan itu muncul jauh sebelumnya, yakni pada era 1970-an.

Adalah Irwan Hidayat, CEO pertamanya, yang bisa mengangkat perusahaan ini dari keterpurukan.

Perlahan namun pasti, keluarga Hidayat bisa membawa Sido Muncul lepas dari ancaman bangkrut hingga berkibar seperti sekarang.

Dari banyak berita tentang kerja keras perusahaan ini, kita bisa mengambil pelajaran, terutama yang tengah terjerat kebangkrutan.

Berikut ini rahasia Sido Muncul lepas dari ancaman bangkrut yang dihimpun dari sejumlah pemberitaan:

1. Mau belajar dari 0 meski dapat bisnis warisan

sido muncul
Dialah Irwan Hidayat sang nahkoda Sido Muncul (Bintang)

Namun pemegang warisan bisnis itu tetap mau belajar dari 0. Bahkan ikut menciptakan jamu, sesuatu yang mestinya lebih menjadi tanggung jawab bagian riset dan pengembangan.

Tapi justru dari inisiatif itulah perusahaan ini bisa lepas dari ancaman bangkrut. Pil Amor, nama produk jamu itu, ternyata laku keras.

Omzet pabrik pun melejit berkat pil kewanitaan tersebut. Bahkan utang perusahaan yang sebesar Rp 46 juta—pada era 1970-an, uang ini nilainya besar sekali—bisa dilunasi dalam waktu tujuh bulan saja.

Kalau ahli waris bisnis itu hanya mau duduk di kursi direksi tanpa mau memikirkan, terlebih menciptakan produk baru, mungkin Sido Muncul sekarang tinggal nama. Irwan Hidayat yang awalnya enggan mengurusi bisnis jamu ternyata mau belajar dengan membantu orang tuanya saat muda, hingga akhirnya dia piawai mengurus sendiri bisnis itu.

2. Mau dengarkan konsumen

Konsumen adalah raja. Ungkapan ini masih berlaku hingga saat ini. Mungkin Sido Muncul termasuk yang mempercayainya.

Alkisah, Irwan Hidayat pernah mendengar bahwa jamu produksi Sido Muncul kurang enak. Akhinya, Irwan meneliti lebih lanjut persoalan itu untuk mencari solusinya.

Padahal bisa saja anggapan itu dianggap angin lalu. Toh, gak ada publikasi atau tuntutan massa yang meminta rasa jamunya diubah. Mungkin hal itu cuma dialami satu orang, bisa saja.

Tapi ternyata pendapat konsumen itu didengarkan dengan baik. Irwan lantas lebih serius memperhatikan kualitas jamunya.

3. Selalu berinovasi

sido muncul
Bisnis tanpa inovasi hanya tinggal tunggu waktu sampai bangkrut (Liputan 6)

Meski merupakan produk tradisional, jamu tetap bisa dimodifikasi dengan inovasi di tangan Sido Muncul. Salah satunya adalah Pil Amor yang akhirnya malah bisa menyumbang dalam kesuksesan Sido Muncul.

Selain itu, jamu yang identik dengan rasa pahit bisa dibikin manis. Wujudnya yang secara umum berbentuk bubuk kasar pun bisa dibuat lebih halus.

Bahkan ada produk yang berbentuk cair untuk memudahkan konsumsi. Produk buat anak dan dewasa pun dibuat secara khusus agar ada segmentasi pasar, sebuah diversifikasi bisnis yang jitu.

4. Evaluasi rutin

Sido Muncul pernah tekor gara-gara aktif berekspansi. Untungnya ada evaluasi bisnis rutin yang dijalankan.

Akhirnya, strategi bisnis yang ternyata gak menguntungkan itu disetop. Utang yang muncul lantas didata dan dicarikan solusinya.

Tanpa evaluasi, bisnis bakal berjalan tak terkendali. Hal negatif yang mestinya bisa dideteksi sejak awal bisa-bisa kebablasan dan tak terselamatkan.

Sebaliknya, strategi yang terlihat efektif bisa dikembangkan setelah melalui evaluasi. Tak perlu ragu ataupun malu mengakui bahwa strategi bisnis yang dijalankan kurang berhasil. Langkah ini menjadi pembuka untuk memperbaiki strategi agar menghasilkan kesuksesan.

5. Pandai berstrategi

sido muncul
Seperti Sun Tzu, mesti pandai berstrategi untuk memenangi persaingan (liputan 6)

Keluarga Hidayat menjual resep rahasia jamunya seharga Rp 33 miliar ke Sido Muncul. Tujuannya adalah mengamankan aset perusahaan dalam jangka panjang, agar perusahaan bisa terus maju meski keluarga Hidayat sebagai pemilik udah beranak-cucu.

Pemisahan keluarga dan bisnis ini menjadi strategi yang mumpuni. Jika resep rahasia itu tetap dikuasai keluarga Hidayat, gak ada jaminan anak-cucunya bakal menyelewengkannya.

Misalnya dengan membuka pabrik jamu sendiri karena gak cocok dengan saudaranya yang lain. Setelah hak resep jamu jatuh ke tangan perusahaan, otomatis keluarga gak punya wewenang lagi untuk mengembangkannya.

Meski begitu, saham perusahaan tetap dikuasai keluarga. Hal ini bertujuan memastikan resep gak keluar jalur dan dikuasai pesaing.

Setiap perusahaan bisa saja bangkrut, bahkan yang sudah kokoh berdiri sejak lama. Kodak adalah contohnya. Perusahaan ini begitu berjaya pada era kamera analog.

Begitu juga Lehman Brothers. Bank ini sudah 1,5 abad berdiri. Tapi toh bisa bangkrut juga. Karena itulah diperlukan kewaspadaan, juga kerendahan hati untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Perjalanan sukses Sido Muncul bisa dijadikan panutan. Adapun kegagalan Nyonya Meneer mestinya dapat dilihat sebagai hadangan yang harus dihindari.

قالب وردپرس

error: Content is protected !!